KATANYA NEGARA AGRARIS, TANAH SUBUR, SAWAH TERBENTANG, LAUT LUAS

TAPI KENYATAANYA KITA MASIH RIBUT SOAL IMPOR

Ketahanan pangan itu bukan cuma urusan pejabat di TV. Buat rakyat, ketahanan pangan tuh kerasa pas ke pasar, buka dompet, terus mikir: โ€œKok harga beras naik lagi sih?โ€ Minyak goreng yang dulu santai dibeli, sekarang jadi mikir dua kali. Telur? Kadang rasanya kayak barang premium.

Petani di desa pusing cari pupuk, mahal dan susah. Nelayan juga ribet, solar susah, hasil tangkapan nggak sebanding sama biaya. Sementara di kota, rakyat cuma bisa nerima harga jadi, tanpa tau kenapa bisa semahal itu. Harga bahan pokok naiknya pelan tapi konsisten, kayak deadline. Sementara gaji? Ya gitu-gitu aja. Rakyat bukan nggak ngerti data, cuma capek denger angka yang nggak nyambung sama isi dapur.

Janji kedaulatan pangan sering lewat di timeline, tapi di dapur isinya beda cerita. Sawah digusur, diganti beton. Distribusi dikuasai pemain gede, yang kecil cuma kebagian remah. Begitu stok mulai seret, solusi instan selalu sama: impor. Cepat, tapi nggak pernah nyelesain masalah.

Yang paling kena ya rakyat. Gaji segitu-gitu aja, harga naik mulu. Akhirnya makan dikurangin kualitasnya, yang penting kenyang. Anak-anak tumbuh, tapi gizinya pas-pasan. Ini bukan drama, ini realita harian. Katanya tanah kita subur, sawah luas, laut gede. Tapi kenapa tiap ada masalah, jawabannya impor? Petani lokal malah ditinggal, pupuk mahal, hasil panen nggak dihargai. Nelayan juga sama, berangkat melaut kayak judi: bisa balik bawa hasil, bisa balik bawa utang. Negara agraris kok rakyatnya harus was-was soal makan?

Buat rakyat, pangan itu bukan isu elite, bukan bahan debat lima tahunan. Pangan itu soal bisa masak hari ini atau nggak. Jadi kalau ngomong politik pangan, jangan cuma pamer data. Turun ke dapur rakyat. Karena di situlah politik paling jujur kelihatan: di piring yang makin tipis isinya.

Pejabat sibuk konten panen raya, foto pegang padi, caption โ€œstok amanโ€. Tapi di pasar, harga tetep bikin kaget. Rakyat nggak butuh foto estetik, yang dibutuhin harga stabil. Pangan itu bukan bahan pencitraan, tapi kebutuhan harian. Kalau cuma aman di kertas, itu namanya ilusi.

Jangan kira anak muda nggak peduli pangan. Anak kos tau banget rasanya harga beras naik, mie instan naik, lauk makin minimal. Akhirnya makan asal kenyang, soal gizi belakangan. Padahal masa depan bangsa itu ya yang hari ini lagi makan seadanya.

Kadang barang ada, tapi nggak nyampe. Kadang panen bagus, tapi harga tetep mahal. Masalahnya bukan cuma di sawah, tapi di jalan. Rantai distribusi panjang, pemain gede pegang kendali, yang kecil cuma ikut arus. Petani rugi, konsumen tetep mahal. Yang untung? Ya itu-itu aja. Begitu harga naik, solusi instan langsung impor. Cepet, kelar di headline. Tapi efeknya panjang: petani lokal makin kejedot, ketergantungan makin parah. Kita kayak orang yang tiap lapar pesen fast foodโ€”kenyang bentar, tapi masalahnya nggak sembuh.

Janji soal pangan selalu penuh, tapi piring rakyat makin sering kosong. Bukan karena nggak mau kerja, tapi sistemnya nggak adil. Kerja keras di sawah nggak sebanding sama hasil. Kerja keras di kota nggak cukup buat makan layak. Yang salah siapa? Bukan rakyat jelas.

Politik pangan yang bener itu sederhana: petani sejahtera, harga masuk akal, distribusi beres. Bukan ribet pake jargon. Rakyat nggak nuntut muluk-muluk, cuma pengen makan tanpa rasa cemas. Stabilitas itu bukan cuma soal keamanan, tapi soal perut. Kalau rakyat tiap hari mikir makan besok gimana, jangan heran kalau emosi sosial naik. Sejarah udah sering buktiin: krisis pangan itu bensin buat krisis yang lebih gede.

Jadi sekali lagi nih, bahwa ketahanan pangan itu bukan isu elite. Itu isu hidup. Selama kebijakan cuma mikirin angka dan lupa manusia, rakyat bakal terus jadi korban. Dan selama dapur rakyat belum aman, ngomong soal kemajuan itu cuma slogan.

#bangpuput #hzputra